Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Post Terbaru

KAU YANG DULU BUKANLAH KAU YANG SEKARANG

| Jumat, 17 Maret 2017
Baca selengkapnya »
Halo Risa, perempuan judes yang sejak 8 tahun lalu aku kenal pendiam, imut, pintar, baik hati. Tapi sekarang, jangan ditanya hahaha hilang semua penilaian-penilaian suci itu untukmu, karena Risa yang kukenal sekarang banyak kali perubahannya, mulai dari ujung kaki sampek ujung kepala. Maafkan aku, memang harus jujur kali untuk yang satu ini.

Eh eh tapi tunggu dulu, hari ini aku sengaja mau bahas tentang Risa alias Risa Fitrijayati ST berhubung doi lagi ulang tahun. Iya sih dia pasti pengennya aku bahas yang baik-baik kali ini, tapi jangan harap....akan kubongkar semuanya hahahahaha.

Jadi, Risa ini adalah kawanku waktu dulu SMA, eh enggak..Madrasah Aliyah lah lebih tepatnya. Aku kenal dia udah dari kelas X tapi emang aku gak mau ramah-ramah sama dia karena keliatannya anaknya pintar terlihat dari jerawatnya yang subhanallah waktu itu, menyimbolkan kestresannya belajar belajar dan belajar. Nah, karena dia anak pintar, apalah dayaku yang anak biasa-biasa aja, ya kayak segan gitulah mau nyapa-nyapa. Karena kebetulan waktu itu dia agak dekat sama kawan dekatku, Rahmi namanya, makanya lah kadang-kadang ya agak sok ramah lah aku sama dia.

Nah rupanya entah kekmana ceritanya, pas naik kelas XI aku jadi sekelas sama si Risa ini, disinilah aku tau kekmana dia aslinya. Iya, betul lah memang dia pintar apalagi Fisika, Matematika, Kimia, pokoknya IPA-ers banget lah. Kayaknya sih pintarnya emang turun temurun dari keluarganya hahaha. Walaupun termasuk golongan anak pintar, dia gak mau duduk di depan kayak anak teladan, malah milih duduk paling belakang dan sebangku sama si Widya. Yang paling kuingat asal jam keluar menmaen (istirahat) dia sukak suntuk menyuntuk mukaknya karena kawan sebangkunya nongkrong sama cemewewnya, jadilah si Risa melalang buana samaku dan kawan-kawan lainnya. Mulai dari belik jajan, kombur sampek tasmi’ tasmi’an (anak madrasah pasti paham maksudnya.

Mulai saat itulah kedekatan kami berlangsung, pelan-pelan aku jadi tau selain pintar ternyata dia baik orangnya, sepaket sama hatinya yang mudah tersentuh. Loh, kenapa tersentuh? Ia, ini perihal pe-ra-sa-an si Risa yang mudah kali tersentuh dan akhirnya luluh. Contohnya, “perlu kujelaskan nggak cha? Keknya udah paham lah ya, takutnya kalau kuceritakan nanti kau flashback dan teringat lagi sama doi yang sudah membuatmu patah hati berkeping-keping.”

Ya gitulah pokoknya tentang Risa versi jadulnya. Terus terus gimana sih Risa yang sekarang di zaman modern ini? Em jangan ditanyaaaaak, payah bilanglah wkwkw. Dulu itu dia agak bohayan, pas masuk USU jadi bekurang dagingnya dibante jadi anak Teknik yang kuliahnya tak tanggung stressnya. Dulu, dia anaknya kalem, kebiasaanya kemana-mana pake rok, kalau pun pake celana ya celana bahan, kebayangkan gimana Risa versi jadulnya? Semenjak kuliah, dia udah belajar jadi anak bandal, pake jeans dan tiba-tiba jadi fashionable, tekejot jugak awak nengoknya yekan, ya itulah namanya transformasi *eak.

Bedanya lagi Risa versi jadul sama versi sekarang apa sih? Sekarang hatinya udah ga selembut dulu, dia udah bisa cakap ceplos-ceplos mencurahkan isi hatinya, mungkin biar gak nyimpan beban banyak-banyak di dalam hatinya hahaha. Aku jadi curiga, mungkin karena itu juga lah makanya pipinya sekarang udah kinclong tanpa jerawat.

Dan, yang paling beda dari Risa adalah makeupnya. Bukan lagi....., kalah lah gaya awak sama dia ckck, sekarang yang pandean dia besolek we, semua tentang makeup paham dia. Mungkin karena udah usia pantas mencari jodoh makanya dia berani tampil beda. Salut lah pokoknya sama perubahan Risa dari masa ke masa.

Satu yang ENGGAK BERUBAH dari seorang Risa adalah kesetiaannya. Kalau bahas ini aku mau terharu aja bawaannya, karena apa...karena dia adalah kawan yang peduli menurutku. Aku ingat betul waktu dia bantuin aku buat ikutan tes perguruan tinggi, dari awal sampe akhir, intinya sama-sama berjuang dan emang dia lah yang paling semangat sampek rela pulang perpisahan sekolah lebih awal sementara kami masih heboh foto-foto di sekolah hanya karena pengen nengok pengumuman kelulusan. Atas izin Allah, sesampainya di rumah telpon darinya lah yang buat aku gemetaran, LULUS di USU...begitupun dengan dia. Makasih ya Risa boneng. “Udah ya, cukup paragraf ini aja aku muji-muji kau sa.”

Pas lah tepat aku siap muji-muji kau sa, tiba-tiba masuk BBM-mu kek gini. Apa gak bangke kali kau hahaha.

Intinya, Risa itu kawan, teman, sahabat sehidup mati yang baik hati, yang selalu ada, yang selalu sukak cerita panjang lebar sampek awak gak sempat becakap, yang hobinya peduli, ah banyakah pokoknya. Tetap jadi Risa yang baik yaaaaaaaaaaaaaaaa.

Happy birthday Cha, semoga 23 TAHUN mu selalu berkah kayak Zakiyah Berkah, semoga tahun ini adalah tahun keberuntunganmu baik itu dalam hal jodoh pekerjaan maupun jodoh pernikahan. Segala yang baik buatmu, segala yang gak baik jangan diikuti, segala yang suka dan duka ayok sini dibagi. Aku tunggu di Jakarta, sama-sama ngadu nasib biar kita tahu gimana kejamnya dunia dan gimana indahnya nusantara.


Happy birthday Risanya Zakiyah, salam rindu dari triliun kilometer.

KAU YANG DULU BUKANLAH KAU YANG SEKARANG

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Jumat, 17 Maret 2017
With 0komentar

Mengulang Kenangan Di Mopen Jait Community

| Selasa, 28 Februari 2017
Baca selengkapnya »
Di antara kita semua pasti memiliki keinginan untuk mengulang kenangan, apalagi kenangan itu adalah kenangan yang berkesan. Serasa ingin kembali ke masa lalu, masa yang telah mempertemukan kita dengan orang-orang baik tentunya. Padahal ya, dulu waktu SMP aku pengen banget cepat-cepat SMA, giliran udah SMA pengennya cepat kuliah, eh udah kuliah malah pengen banget balik ke masa-masa sekolah.
Ilustrasi Mopen Jait

Tapi kalau ditanya tentang masa mana yang paling berkesan, tentu masa-masa di SMP dan SMA deh sama sernya, sama banyak kisahnya, mulai dari cerita sedih, takut, terharu, senang, gokil bercampur jadi satu di masa sekolah.

Nah, ntah kenapa akhir-akhir ini aku justru rindunya sama masa SMA, eh bukan SMA sih tapi madarasah aliyah, karena kebetulan masuknya di sekolah agama. Tahu ga sih apa yang paling berkesan dari masa aliyah, mungkin satu di antaranya adalah masa ketika aku disatukan dengan orang-orang di satu angkutan transportasi yang sama.

Kebetulan jarak dari rumahku ke madrasah itu berkisar antara 20-40 menit, tergantung dari kecepatan yang digunakan. Karena dulunya masih unyu-unyu dan belum dibolehin bawa kereta (sepeda motor) sendiri, ya rata-rata orang-orang di kampung yang sekolahnya di kota (arah Kisaran) selalu menumpang dengan satu angkutan yang sama karena kebetulan hanya mopen (angkot) itu yang selalu baik mengantar kami untuk menempuh pendidikan (*bahasanya kayak rajin belajar, haghaghag) di Kisaran.

Pak Jait (Jaiz)

Ya, kami menamainya mopen Jait karena supirnya sendiri bermarga Panjaitan. Setiap pagi Pak Jait (panggilan akrabnya) lah yang mengantar kami ke sekolah. Biasanya Pak Jait beroperasi mulai dari sekitar pukul 06.00, dari arah Simpang Plasmen baru kemudian menjemputi setiap orang dari kami di depan rumah masing-masing, rasanya istimewa kan dijemput tiap pagi bahkan menariknya kadang ditungguin kalau belum siap. Aku sendiri pernah kesiangan bangun sementara Pak Jait udah nunggu di depan, jadi mau gak mau bawa sepatu dan sarapan dibawa ke dalam mopen, (sarapan dan pake sepatunya di mopen gitu). Tapi ada juga yang udah ditungguin tapi gak nongol-nongol, ntar pas mopennya udah jalan baru orangnya nongol, biasanya mopen tetap dikejar sama penumpangnya.

Biasanya muatan untuk sebuah mopen tidak lebih dari 17 orang, tapi mopen Pak Jait mampu menampung lebih dari 20 orang. Hah, kok bisa? Padahal orang di dalamnya gak kecil-kecil semua, termasuk aku. Itulah menariknya, setiap jeda tempat bisa digunain buat tempat duduk, bahkan sampai atap mopen sekalipun. Belum lagi banyak di antara yang cowok-cowok lebih memilih untuk gantungan di pintu dibandingkan harus duduk di dalam. Kalau kata si Arief Dermawan sih biar bisa caper alias cari perhatian sama cewek-cewek hahahaha. Resikonya kalau udah mau nyampek Simpang Kawat ya mereka harus turun atau nunduk, nymepil dan timpah-timpahan di dalam, takut ada razia :D. Tapi iya sih gantung di mopen itu emang enak banget, aku pernah nyoba pas pulang sekolah, kebetulan banyak yang pulang sore jadi mopen sepi hanya ada sepuluhan orang aja, eh ternyata emang enak serasa kayak kernet sambil bilang “teluk dalam-teluk dalam.”

Sebenarnya kalau disuruh milih, aku sendiri sih lebih memilih untuk duduk di sudut, biar bisa tidur terus nyenderin kepala ke speaker belakang meskipun mopen Pak Jait selalu full music sampek sekolah. Kok bisa tidur dengan suara keras begitu? Ya bisa lah namanya juga ngantuk. Bukan Cuma aku kok yang tidur, beberapa di antaranya juga tidur karena mungkin bangun paginya kecepatan hahaha.

Kadang tuh, aku memaksakan buat gak tidur kalau emang ada PR atau hapalan yang harus dikerjain. Teman-teman yang di mopen juga banyak yang begitu, bahkan ada yang menjahit tugas keterampilan di dalam mopen. Gak heran, selain sebagai jasa angkutan, mopen Jait udah seperti rumah kami sendiri.

Lain lagi kalau pas jam pulang sekolah, kita kan udah ditungguin tuh di depan gerbang tapi tetap aja ada yang lama datang, dan mayoritas yang lama datang itu pasti karena beli Jajan dulu di depan MAN, termasuk aku. Itu karena mopen jait kan gak bisa diajak balap jadi bakal lama nyampek rumah, biar gak keburu kelaparan sih dan juga bair enak bisa nyenyak tidurnya di mopen. Atau biar lebih lomak menggosipnya sama kawan-kawan, pas pulak jam pulang sekolah kan selalu panas dan hot di dalam mopen, menjadi pelengkap panasnya gosip.

Apa sih bedanya mopen Jait dengan mopen lainnya? Jelas banget bedanya. Berikut penjabarannya:

11.Mopen Jait Full Music, spekernya emang keras keterlaluan tapi enak, biasanya musik diputar pake hape kami secara bergantian. Lebih tepatnya pake hp yang jomblo, karena kalau gak jomblo pasti dipake buat SMS-an *waktu itu bbm, Line belum hits kayak sekarang.

22.  Penumpangnya cuma kami-kami aja, jarang banget orang lain naik (karena udah gak muat)

33. Mopennya gak cantik, tapi nyaman lah buat tiduran, karena yang penting bisa sampek aja di sekolah udah paten. Eh tapi aku pernah lho naik mopen Jait ini ke Medan, dan supirnya emang Pak Jait :D

44. Mopen Jait suka mogok, gak suka sih tapi lebih tepatnya hobi. Jalannya juga lama, maklum umur Mopen Jait udah tahuhan, mungkin dia udah renta apalagi setiap hari harus dipakai dan dinaiki oleh puluhan orang. Tapi kami tetap loyal, meskipun sering mogok kami tetap gak mau dioper ke mopen lain meskipun kami harus menanggung resiko terlambat ke sekolah. Dan tentu yang menjadi korbannya adalah cowok-cowok, mereka disuruh bantuin dorong sampek mopennya idup lagi hahahaha. Lagian kalaupun telat, ya telatnya barengan (kebetulan mayoritas penumpangnya sekolah di MAN Kisaran, ada juga yang di Islmaiyah, SMP 6, SMA N 2). Kalau aku sendiri ga takut lagi kalau telat, paling dihukum bareng-bareng, disuruh nyabut rumput atau baca yasin barengan misalnya hihihi, duh kan rindu.

55. Mopen Jait setia, kami selalu ditungguin. Baik itu pergi maupun pulang sekolah. Menariknya lagi kami ditunggu di depan gerbang sekolah jadi gak perlu repot untuk jalan ke Simpang UNA.

Dan, satu hal yang membuat mopen Jait itu beda banget dengan mopen lainnya. Di dalamnya banyak yang cinlok alias Cinta Lokasi. Kayak misalnya Dini sama Azrun, Azrun sama Dian, Arief sama Mela, Raty sama Bg Ismawanto, Nilfa sama Bg Sani, terus siapa lagi ya? Sampai sekarang belum terungkap sih semuanya hahaha. Jadi cerita tentang mopen Jait bukan sekedar angkutan biasa, tapi juga tentang banyaknya kisah kasih di dalamnya.

Mopen Jait itu penuh kesan, terutama bagi kami..penumpang yang paling setia ini hahaha. Selain itu kami juga kompak sama supirnya, kayak misalnya ada yang lagi pedekatean, bangku depan pasti sengaja di stel udah ada yang mau duduk padahal kosong biar yang lagi pedekatean duduknya samping-sampingan, kami juga kalau disuruh geser gak bakal mau karena udah sekongkol sebelumnya hahaha.
Oh iya, aku juga pernah kenak korbannya, jadi tiba-tiba aja mopennya berenti dengan alasan mogok atau mau ganti oli gitu deh, yaudah deh karena udah biasa mogok aku pun gak curiga. Tapi kok kulihat Pak Jait malah senyum-senyum pas bongkar mesinnya, eh rupanya aku yang kenak kerjain, malah kenak siram sama tepung, dan telur berhubung lagi ulang tahun. Semuanya udah sekongkol duluan, jadi aku harus pulang dengan pakain yang kotor dan menjijikkan (habisnya dulu kalau ulang tahun emang musim disiksa begini), untung aja banyak yang ngasi kado jadi mau marah pun gak jadi wkwkwk.

Sekarang, para penumpang Mopen Jait udah pada berpergian. Ada yang masih kuliah, ada yang s2, ada yang udah kerja, ada yang merantau jauh, ada yang pengangguran, ada yang jadi tentara, dan ada juga yang udah meninggal. Al Fatiha baut saudara kita Immanuddin, semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, Aamiin.

Dan ternyata masing-masing dari kita juga udah banyak yang berubah, kayak misalnya yang dulu cinlok-an udah pada putus, ga ada satu pun yang masih pacaran. Ada yang dulunya gendut banget sekarang udah langsing, ada yang dulunya keriting sekarang udah lurus, ada yang dulunya pendiam eh sekarang udah jadi tentara aja, dan yang kalah penting ada beberapa orang yang udah NIKAH. Yang jomblo kapan nyusul? *usap-usap dada.

Kesan mereka tentang Mopen Jait : 
Khairul Abdi Bugis



Khairul Abdi Bugis “Hal yang paling berkesan itu pas ban mopennya bocor, apalagi waktu di Pasar Mereng terlihat kali kebersamaannya karena nggak ada yang mengutamakan ego masing-masing biar gimana sampek ke sekolah dengan naik angkot lain. Tapi semua sabar menunggu ban diganti walaupun sama-sama dihukum sama Pak Ika dan Pak udin.”









Tria Windiani





Tria Windiani “Yang paling berkesan itu kalok pulang sore rame-rame ada aja pembahasan yang lucu-lucu, ketawa-ketawa bareng, udah gitu kalau lagi galau pasti ada aja lagu di mopen yang bikin baper.”







Riska Utami Damanik



Riska Utami Damanik “Mopen Jait itu tiap pagi selalu lewat ke simpang dengan suara musik yang keras, pertanda kalau mopennya bentar lagi mau pergi ke Kisaran kan, karena kalau ada musik yang kuat pagi-pagi di jalan itu pasti mopennya Pak Jait.”






Dinda Lubis





Dinda Lubis “Yang paling berkesan adalah ketika ketinggalan mopen Pak Jait lalu ngejar sampek Simpang Kawat hahahah.”










Herti Maira Bugis
Herti Maira Bugis “Hanya naik mopen Pak Jait aku pernah merasakan ban bocor saat mau pigi sekolah, merasakan terlambat karena pas mopen Pak Jait gak lewat. Terus di mopen Pak Jait juga aku pernah merasakan belajar dengan dibunyikannya musik yang lumayan keras bersamaan dengan orang yang menggosip, ada tentang cowoknya, gebetannya, dan gurunya yang sering ngasih tugas dan hapan.”





Arief D Hasibuan



Arief D Hasibuan “Suka merasa kesal kalau sudah sampai rumah atau sekolah, pengennya perjalanan jauh jadi bisa lama-lama di mopen Pak Jait. Namun yang paling berkesan itu ya kalau lagi mogok, asik aja gitu dorong rame-rame jadi gak malu haha.”






Chyntya Dewi Panjaitan





Chyntya Dewi Panjaitan “Mopen Bang Jait itu penolong buat aku, soalnya kan mopen dari Air Batu gak ada dan nemunya ya mopen Jait ini, meskipun harus di antar sama ayahku dulu kan ke Teluk Dalam.”














Azrun Harisyah Sinaga “Kesabaran sang sopir dalam menghadapi pelanggan, keramahan, kebersamaan yang kompak.”













Elvina Aprilia Sinaga
Elvina Aprilia Sinaga “Yang paling berkesan banyak, tapi yang paling diingat waktu pulang hujan-hujan selesai kegiatan ekstra hari Jumat, posisinya magrib, hujan deras kita dijemput Pak Jait dan penumpang di dalamnya udah melebihi kapasitas, termasuk Umi Weeya juga. Ada juga yang berkesan waktu Kak Eky ulang tahun dan kita berenti di sawit-sawit, hahaha. Oh ada lagi kejadian pas ada yang melempar puntung rokok ke KUPJ terus KUPJ nya nyerempet di daerah Teluk Manis, padahal yang di dalam mopen katanya gak ada yang ngerokok dan akhirnya jadi berantem. Saat itu di dalam angkot cowok semua, ceweknya cuma awak sama Irma dan akhirnya semua pada jadi sok jantan bantuin Pak Jait supaya gak disalahin sama supir KUPJ dan akhirnya KUPJ nya pergi karena salah tuduh, tapi menurutku keknya yang buang puntung rokoknya si Azrun la tapi dia gak ngaku, hahahaha.”
Zakiyah Afni Sihombing

Zakiyah Afni Sihombing “Mopen Jait itu adalah angkot yang paling hits saat itu, kalau dengar nama Mopen Jait pasti ingat mogok di tengah jalan, tapi karena mogok kelihatan kerjasamanya, sama-sama nyorong maksudnya. Penumpang Mopen Jait itu istimewa daripada yang kain karena kalau naik Mopen Jait pasti disambut sama Pak Udin , disambut karena datang terlambat. Satu lagi, Mopen Jait itu tempat ajang cari jodoh, banyak cinlok.”




Zakiyah Wardah Sihombing



Zakiyah Wardah Sihombing “Yang paling berkesan itu saat terlambat masuk sekolah sampek jam 8 karena mopennya mogok di Sentang, Terus dihukum bareng sama guru BK.”






Dini Ramadhani
Dini Ramadhani “Yang paling berkesan di Mopen Jait itu, mih menurut aku pribadi yah. Bisa punya banyak temen yg koplak dan care care deh. Terutama si doy itu koplaknya pake bingit. Yg kadang kalok dalem mopen itu tiba tiba diem kalok pas lagi ada cewek yg ditaksirnya. Dan tiba tiba bisa ketawa cekikikan kalok pas lagi bolong pantatnya mungkin yah hihi. Sorry yah bg doy yah. Terus nih bisa punya temen kek si atu ala itu luar biasa bingit. Dia yg jodoh jodohin aku sampek akhirnya aku pacaran sama si anak bandel azrun dan bs bertahan sampek 5 tahun. #curcol sedikit yah hihi. Eh tapi makasiya atu ala. Berkat dirimu aku banyak belajar tentang noh si azrun yg sampek skrg gak bs dibilangi hihi. Terus buat si azrun sinaga nih, khususon thank you, walaupun 5 tahun ini udh lebih banyak makan hatinya tapi banyak senengnya juga sih kenal samamu. Kalok kata mereka sih cintaku nemplok nang angkot yah hihi. Pokoknya terindah deh wkwkw. Tapi itu dulu yaw, semenjak putus kan blm pernah blg makasi. Karena si atu ala minta kesan gimana di jait dulu. Aku cantolin deh sekalin. Makasi yah abg gopur yg udh pernah buat aku nangis, seneng seneng bareng elu hihi. Pokoknya kalok bisa diulang aku pengen ngulangnya sehari aja. Ngulang naek angkotnya yak bukan ngulang percintaannya wkwkw.” (DINI LAGI CURHAT)


Fitriani Tanjung “Jait community itu kumpulan anak yang pada semangat sekolah jauh , yang punya mobil pribadi milik bersama. dan yang paling berkesan di jait community itu semangat subuh buat nunggu angkot di simpang demi bisa naik angkot bareng jait community, dan paling lucunya kalok satu orang aja telat stand by nunggu angkotnya jait bisa bikin kitanya pada telat masal. gak bakal lupa pernah lari lari an ngejar angkot wak jait.  berasa susah 3 tahun SMA tanpa wak jait dan rindu sama masa masa yang kayak begitu .

Nah itu dia kesan-kesan dari sebagian besar penumpang penumpang Mopen Jait. Oh iya buat kalian yang merasa penumpang Mopen Jait dan pengen nostalgia bareng kita silahkan add line aku ya idnya atuala. Kita punya grup Jait Community, yang bisa buat klen golak-golak bareng ngingat masa lalu. Semoga kita tetap solid, sukses dan buat yang jomblo semoga segera mendapatkan tambatan hatinya, ntar kalau punya anak, pigi sekolahnya naik Mopen Jait aja ya.

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kalian semua tentang indahnya kebersamaan naik Mopen Jait. Kapan-kapan kita meet up ya. Oh ia andai aja Pak Jait baca tulisan ini, kira-kira bakal komen apa ya hahahaha. Semoga sehat terus buat Pak Jait beserta mopennya, Aamiin.


Salam sayang dari penulis, Zakiyah Rizki Sihombing “langsing”.

Zakiyah Rizki Sihombing

Mengulang Kenangan Di Mopen Jait Community

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Selasa, 28 Februari 2017
With 0komentar

Sedihnya Pisah Sama Teman Kos

| Senin, 27 Februari 2017
Baca selengkapnya »
Dalam hidup, terdapat satu hal yang pasti terjadi, yakni perpisahan. Kita semua tahu, tiap kali kita bertemu dengan seseorang maka akan terjadi perpisahan setelahnya, baik itu yang bersifat sekejap, sementara atau pun selamanya. Berbicara tentang perpisahan tentu tak jauh-jauh dari perasaan terharu, sedih, luka maupun kecewa apalagi jika perpisahan itu terjadi pada orang-orang yang saling menyayangi.

Muka Jelek

Kalian semua pasti pernah mengalaminya, termasuk juga aku. Nah, kali ini aku mau cerita tentang sedihnya pisah sama teman-teman satu kosan dimana kami udah bareng-bareng dari 3-4 tahunan. Sama-sama merupakan #anakasahan yang merantau ke Kota Medan. Aku sendiri emang dari awal tinggal dengan Kak Putri di Medan karena kami sodaraan, jadi tentu pertemuan itu dengan rencana, kebetulan waktu itu kami tinggal bertiga sama Kak Uchi tapi setahun kemudian dia pindah karena mau ngekos sama adeknya yang baru masuk universitas.

Uut, Yona, Kak Putri

Nah, tahun kedua aku merantau di Medan, kami kedatangan keluarga baru yang kebetulan emang dari Asahan juga, mereka ada Uut dan Yona. Panjanglah ceritanya sampek akhirnya kami bisa satu kosan, tapi yang pasti kenangannya banyak kali. Aku satu kamar sama Kak Putri, sementara Uut sama Yona.

Aku, Kak Putri, Uut

Awal tinggal di satu rumah kosan yang sama aku kira si Yona itu anaknya gaul, hits gitu tapi lama-lama aku baru sadar kalau dia anak rumahan hahaha. Beda lagi sama si Uut, awalnya kukira dia orangnya tukang merepet eh rupanya yang baekan hahaha. Kalau penilaianku ke Kak Putri pasti gak salah karena udah kenal duluan dari kampung ckckc, yang pasti Kak Putri orangnya gilak sama Korea, sampe tahan ga makan ga mandi demi oppa oppa korea itu wkwkwk.
Lapar kali kalian ya :D
Back to topic, jadi karena sakin banyaknya kenangan kami selama satu kosan, aku tuh sempat mewek gitu waktu pisah sama mereka. Emang kenapa sih harus pisah? Ya karena kebetulan kami sama-sama tamat di tahun yang sama, Kak Putri wisuda bulan 5, aku dan Yona bulan 8 dan Uut bulan 9. Jadi karena semua udah punya tujuan hidup masing-masing kami memutuskan untuk berpisah.


Tau gak sih sedihnya itu kenapa, kalau aku sih sedihnya kayak ngerasa ada kebiasaan yang hilang gitu. Biasanya selalu rebutan kamar mandi pagi-pagi, rebutan nyuci di hari weekend, rebutan jemuran, udur-uduran giliran siapa ngangkat galon aqua, udur-uduran beli pulsa listrik, bayar air, bahkan sampai pernah cek cok gara-gara piket kebersihan. Sekarang kebiasaan itu hilang, padahal biasanya itu yang dikesalkan tapi justru itu pulak yang dirindukan hahaha. Ah, duh kan jadi mewek.

Kadang suka aja flash back, ingat-ingat masa dulu saat aku pernah patah hati sejadi-jadinya dan merekalah malaikatnya, Kak Putri, Uut dan Yona lah yang bisa dibilang menjadi seolah motivator waktu itu, sampek ikutan bantuin nunjukin kebenaran yang sebenarnya, disitu aku duh terharu banget karena meski di perantauan aku jadi punya keluarga buat berbagi. Gitu juga waktu si Uut yang patah hati, momen ini paling heboh karena si Uut sampek pingsan gegara gak makan dibuat galau hahaha, tapi syukurnya semenjak putus dia jadi rajin sholat sampai sekarang hihihi. Kalau Yona sama Kak Putri gak ketauan kapan patah hatinya sih, wkwkw.


Dan tiba-tiba aku jadi teringat momen so sweet lainnya, ketika kami selalu sholat magrib jamaah, yang jadi imam selalu ganti-gantian, setelah itu ngaji bareng, dan saling tegur kalau ada bacaan yang salah. Gitu juga kalau mau tahajjud, si Yona lah yang paling sering bangunin buat sholat, duh terharu.
Kalau dikasi kesempatan buat berterima kasih, aku pengen banget berterima kasih buat tiga orang ini, karena mereka selalu ada kapanpun, kayak misalnya pas sidang mereka datang buat ngintipin aku di jendela dan bawain bouqet dari teman-teman naik becak hahaha.
Kok lebar kali mangapnya Kak Put :D

Intinya aku sempat mewek karena pisah sama mereka ini, karena sekarang kangen banget sama Kak Putri yang paling pengertian sama urusan kos, paling diem kalau kami ribut dan juga paling welcome. Juga sama Yona yang meski suka sakit tapi tetap peduli kalau kita yang sakit, yang paling rajin nyuci dan nyetrika, yang paling rajin belajarnya. Dan kangen juga sama Uut yang hobinya mojok di kosan wkwkw, yang paling enak kalau buat kue, yang paling pengertian kalau kita lagi butuh dan selalu bantuin Kak Eky-nya wkwkwk.

Pokoknya makasih ya tim A Seven, yang udah ngisi hari-hariku menjadi lebih berarti, aku pasti bakal rindu kali sama klen we. Semoga klen gak bakal lupa sama kebersamaan kita meski udah sukses nanti, aamiin. Sampai ketemu lagi ya weee J

Sedihnya Pisah Sama Teman Kos

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Senin, 27 Februari 2017
With 0komentar

Kenapa Harus Merantau ke Jakarta?

| Minggu, 26 Februari 2017
Baca selengkapnya »
Kenapa harus merantau ke Jakarta?

Iya sih kadang aku emang suka mikir juga kenapa aku harus merantau jauh sampai ke Jakarta ini? Emang gak bisa ya cari kerjaan di Medan aja, emang apa sih bedanya Jakarta sama kota lainnya. Bukan hanya aku, tapi emang banyak kali sih yang nanya kayak gitu, bingung harus jelasin darimana tapi yang pasti aku punya banyak alasan sampai akhirnya bisa merantau kesini.
Lagi di Universitas Indonesia, Depok

Jadi tuh, 7 tahun yang lalu, kalau ga salah aku masih sekolah SMA kelas 1, aku pernah menang lomba nulis (bukan maksud pamer ini ya ckck) terus hadiahnya jalan-jalan ke Bali, senangnya itu duh gak terkatakan lah. Secara ya, ke Jakarta aja waktu itu aku belum pernah apalagi ke Bali. Singkat cerita, aku ngomong ke ortu tapi ternyata aku gak dapat izin. Sedih? Banget lah.

Yaudah aku pun pasarah aja, tapi tiba-tim penyelenggara lomba telpon aku dan mau ngomong ke ortu buat minta izin tapi ya hasilnya tetap nihil karena babah sama umi gak percaya sama yang begituan, mereka kira itu bohongan. Duh tambah deh aku mewek. Merajuk sih tepatnya. Yaudah, akhirnya aku diem aja (Sambil nangis sih), akhirnya babah bilang begini “nanti kalau Eky udah besar, eky boleh kemana aja yang Eky mau.”

Nah, berhubung aku tuh sensing introvert, yang punya ingatan kuat ya aku jadikan aja kata-kata babah itu sebagai #senjata, biar suatu waktu bisa aku gunakan. Beruntungnya, meski gak jadi pergi aku tetap dapat hadiah dari tim penyelengara, yeay sebuah handphone. Untuk anak seumuran aku waktu itu dapat handphone ya senang kali apalagi handphonenya bisa dipakek buat internetan, makasih ya buat tim penyelenggara hehehe.
Rombongan yang ngantar ke Jakarta

Intinya aku tetap bersyukur dengan semuanya, dan coba nurut aja sama ortu karena aku tau kok kalau mereka mau yang terbaik buat aku. Makanya sekarang tuh kalau aku mau kemana-mana udah gak begitu direwelin sama ortu meskipun harus melewati beberapa tantangan dulu kayak misalnya harus kasi alasan yang kuat kenapa harus pergi. Dan hal itu terjadi pas aku pengen banget kuliah di Medan, terus pas pengen banget ikut kemsas di Bogor, banyak lagi deh lainnya.

Tapi pernah sih aku tuh gak diizinin pergi ke Jakarta. Jadi pas udah wisuda S1, aku bilang ke ortu pengen banget ikutan sekolah bisnis ke Jakarta, alhamdulillahnya ortu support karena mereka juga tau impianku. Dengan semangatnya aku siapin lah berkas-berkas yang dibutuhkan, terus juga komunikasi sama orang-orang yang juga udah pernah sekolah disitu atau teman-teman yang ada di Jakarta, intinya persiapan aku udah kuat dan matang untuk pergi.

Umi yang paling sedih waktu di perpisahan di bandara
Tapi, seketika semua itu seolah menjadi sia-sia bagiku ketika suatu malam babah bicara lewat telpon yang intinya beliau gak izinin aku pergi karena aku gak punya kawan buat pergi dan tinggal disana nanti. Aku udah coba jelaskan kalau ada kok teman-temanku yang udah di Jakarta, pokonya aku udah meyakinkan babah dengan segala cara tapi babah tetap aja bilang “jangan.” Aku coba deh pakai #senjata yang tadi, tapi entah kenapa kali ini gak berhasil. Sontak aku nangis dan matiin telpon sampek umi bolak-balik telpon ulang, tapi karena lagi nangis aku biarin aja dan baru angkat setelah aku coba berenti nangis meskipun akhirnya umi sadar kalau aku baru siap nangis, disitu aku tau kalau umi juga sebenarnya sedih karena tau kali gimana antusiasnya aku untuk berangkat. 

Yaudah, kalau udah babah yang ngomong aku gak bisa apa-apa, ya diem aja sambil berdoa semua Allah ngebuka pintu hati Babah, aku juga tau kalau beliau ngelakuin itu karena khawatir samaku, takut akunya kenapa-kenapa di perantauan :’). Ngambek? Ya ngambek-ngambek jambu lah, kecewa, ya gitu deh. Tapi ya bersyukur aja, mungkin ada cara lain yang lebih indah dari ini. Padahal ya gara-gara mau pergi aku sampe resign dari kerjaan sebelumnya hehehe, tapi yasudahlah ya gapapa kok.

Selepas wisuda, gak sekali pun aku melamar kerja. Diajakin temen ikutan jobfair aku nolak, ditawarin kerja aku nolak, diajakin ikut magang dan lainnya aku juga males, intinya aku jadi malesan lah mau ngapa-ngapain. Sampe banyak yang heran, mikirnya aku pengagguran hahaha. Padahal ya aku kan pengangguran produktif *eak, jadi aku milih untuk fokus sama bisnis #zakiyahberkah yang aku bangun aja waktu itu, karena omsetnya aku rasa lebih kok buat aku, bahkan dengan bisnis itu jadi manfaat juga buat orang lain, senangnya itu duh alhamdulillah ya Allah.

Berbulan-bulan aku fokus sama #zakiyahberkah. Sampai akhirnya banyak omongan orang-orang di kampung yang udah mulai buat aku panas, “kenapa sih gak kerja aja? Masa kuliah empat tahun di USU hasilnya malah jualan sih? Kalau mau jualan ngapain harus kuliah?” dan banyak lagi omongan lainnya yang buat palak. Yaudah aku diemin aja, sampai akhirnya aku coba diskusi sama teman-teman tentang tujuan hidup dan cita-citaku.

Kesimpulannya, aku coba beranikan diri untuk berangkat ke Jakarta, buat hidup yang lebih baikah intinya ya. Aku coba lagi ngomong ke babah dan umi, tentunya dengan alasan yang lebih kuat dan gak lupa juga pakai #sejata yang tadi. Akhirnya atas restu Allah, umi dan babah juga restuin aku pergi, senangnya luar biasa. Tuh kan bener, janji Allah emang indah sekali hihihihi.

Sebenarnya sedih harus ninggalin keluarga, sahabat, dan juga bisnis yang udah aku bangun tapi aku yakin akan ada banyak kabar baik setelah ini. Seperti ungkapan kata Imam Syafii “Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.”

Mungkin banyak yang penasaran, kenapa sih harus Jakarta? Ya jawabannya simple, karena Jakarta itu ibukota. Alasannya sama kayak misalnya kenapa orang kampung pengen kuliahnya di kota, begitu lah kira-kira. Lagian banyaknya teman-teman yang udah merantau ke Jakarta juga menjadi alasanku buat gak takut mendatangi ibukota yang katanya kejam ini. 
Job hunter Jakarta ckckc
Aku coba buat yakin aja kalau Jakarta akan membawa perubahan buatku, bukan hanya karena Jakartanya tetapi juga harus ada kemauan dari diriku untuk berubah menjadi lebih baik, insha Allah sukses, aamiin allahumma aamiin. Meski pun begitu, sukses bukan harus di Jakarta loh, kalian juga bisa kok sukses dengan cara masing-masing, yang penting terus ikhtiar kepada-NYA. Semoga kita semua sukses ya, sampai ketemu di tulisan aku berikutnya.

“Hidup sekali hiduplah yang berarti” Ahmad Fuadi.

Oh iya, terima kasih buat Teh Eva Sri Rahayu yang sudah memberikan inspirasi buat nulis ini ckckck.

Kenapa Harus Merantau ke Jakarta?

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Minggu, 26 Februari 2017
With 0komentar

Review Cerita 2016

| Selasa, 21 Februari 2017
Baca selengkapnya »


Detik ini, saya masih saja terkenang. Tentang satu paragraf yang telah berhasil saya tuliskan namun akhirnya saya lenyapkan hanya karena tulisan ini berisi tentang –nya-. Saya takut saja, bilamana terus melanjutkan saya akan terbuai lalu sulit untuk melupakannya lagi meskipun sudah dua tahun kepergian tanpa berita itu terjadi.

Baiklah, saya akan memulai kehidupan baru di tahun baru dengan harapan baru pula tentunya. Namun, sebelumnya saya ingin sedikit merangkum perjalanan yang telah saya lalui selama satu tahun belakangan ini. Tidak banyak keberhasilan yang saya raih satu tahun ini, tetapi saya bersyukur karena setidaknya tahun ini masih lebih baik dari tahun sebelumnya. Ya, pencapaian yang baik untuk kemudian bisa saya ceritakan pada orang lain suatu saat nanti.

Awal tahun 2016, tepatnya pada 11 Januari saya diterima bekerja di salah satu perusahaan media online dan digital menjadi seorang reporter. Saya sangat bersyukur untuk ini, karena tanpa disangka saya adalah satu-satunya karyawan yang lolos lewat jalur seleksi berkas dan wawancara ketika itu. Ini adalah pengalaman bekerja pertama saya, sebelumnya saya cukup ragu karena ketika itu saya juga tengah disibukkan dengan kegiatan kampus yakni menyusun skripsi sebagai syarat lulus dari Universitas Sumatera Utara. Tapi, saya sadar bahwa saya juga perlu banyak belajar dari pengalaman bekerja agar kelak tak terkejut dengan dunia setelah wisuda. Saya mencoba untuk sibuk pada dua hal di awal tahun baik ini yakni bekerja dan menyusun skripsi.
Ini masih jadi reporter baru udah kena jepit aja sama reporter senior, habisnya nemunya sama Pak Menteri sih
Sempat berpikir bahwa skripsi saya akan terbengkalai dikarenakan pekerjaan yang tak kunjung usai meski sudah saya selesaikan sejak pukul 09.00 pagi hingga 18.00 sore, bahkan tak jarang saya lembur mengejar deadline hingga jam 21.00. Nyatanya benar, apa yang saya pikirkan lantas benar-benar terjadi, hampir dua bulan saya meninggalkan dan melupakan skripsi. Ya, skripsi teronggok dengan rapinya sampai-sampai saya malu ketika ditanyai oleh teman sebaya “sudah bab berapa”? rasanya ingin segera pergi dan pingsan begitu saja.
Liputannya sering sama abang-abang hahaha
Dalam seminggu, rasanya saya selalu menunggu hari minggu, berharap hari itu dapat menjadi hari yang melegakan bagi saya untuk sedikit menenangkan otak kemudian lanjut membuka skripsi yang telah lama tertinggal, tetapi nyatanya saya harus tetap pergi, baik itu untuk liputan dadakan ataupun pergi belanja untuk dijual kembali di kampung oleh ibu yang kebetulan membuka sebuah toko pakaian.

Liputannya wawancara artis, ada Chelsea Island sih

Tak terasa, sudah dua bulan saya bekerja dan selama itu pula saya tidak pergi ke kampus. Jangankan ke kampus, untuk bertukar kabar dengan teman-teman yang sama-sama sedang menyusun skripsi pun saya enggan, saya seolah-olah takut kecewa pada diri sendiri. Namun, kabar-kabar terus berdatangan, beberapa teman saya akhirnya akan sidang skripsi, sontak saat itu saya bergegas untuk segera melanjutkan skripsi yang sudah lama tertinggal. Harapan untuk wisuda di bulan lima akhirnya pupus, saya menyesal.

Saya mencoba menguatkan diri bahwa wisuda terbaik adalah wisuda di waktu yang tepat, toh saat itu tidak lebih dari 10 orang teman satu angkatan yang berhasil diwisuda bulan lima *sokkuat. Meski demikian, saya tak mau menyerah, tiba-tiba saja semangat saya membuncah dalam mengerjakan skripsi, banyaknya kesulitan seperti sumber pustaka yang tidak lengkap, responden yang sulit ditanyai dan juga waktu yang tak mencukupi membuat saya semakin semangat karena saya ingin segera menemui kemudahan di balik kesulitan yang tengah saya hadapi ketika itu.
Banyak yang bilang kami kembar hahaha
Untungnya, saya memiliki bos yang sangat pengertian, sehingga pekerjaan dan kewajiban menuntaskan skripsi bisa seimbang, terima kasih bos. Dua puluh empat jam dalam sehari tentu tidak cukup, sebab kebiasaan saya menjadi sangat berubah, tak jarang sepulang liputan saya langsung terdampar lalu terlelap dengan pulasnya di kos-kosan. Tengah malam saya akan bangun untuk mandi, makan lalu mengerjakan skripsi hingga pagi menjelang masuk kantor. Kebiasaan ini sontak membuat berat badan saya naik 5 kg, kalian tentu bisa membayangkan segemuk apa saya sekarang.

Sama Papa Hans ganteng


Semakin saya giat, semakin banyak pula kesempatan yang hadir, bisa dibilang karir saya membaik dengan banyaknya tawaran liputan dari beberapa perusahaan dan merk produk di Kota Medan, untuk sekedar mempromosikan produk maupun wawancara, saya bertemu dan memiliki banyak teman disini. Membuat saya merasa cukup bangga menjadi seorang reporter kala itu. Tak jarang, liputan ke luar kota menjadi makanan saya meskipun saya harus menjadi satu-satunya reporter paling muda, yang berarti saya berada di tengah-tengah reporter dengan sepak terjang yang luar biasa, ya saya juga banyak belajar dari mereka.

Masih terus berkutat dengan pekerjaan dan skripsi, lagi-lagi saya harus membagi waktu untuk melakukan penelitian terhadap enam responden saya yang berasal dari berbagai golongan seperti akademisi, praktisi penyiaran dan mahasisa jurusan Ilmu Komunikasi di Kota Medan. Mungkin kalian akan tahu bagaimana sibuknya saya, bahkan makan tak teratur (tetapi teteeeeup gendatzzz), untungnya saya punya badan yang strong dan tidak tumbang di saat yang tidak tepat.

Menjalani waktu demi waktu dengan terus bersyukur dan memanjat doa, akhirnya kabar baik itu datang. Awal Juni 2016, skripsi saya di ACC, suatu kebanggan terbesar bagi seorang Zakiyah Rizki Sihombing yang selama ini telah memakan banyak waktu untuk (mengabaikan) skripsinya. Perjalanan tidak selalu mulus, sidang skripsi saya akhirnya harus diundur karena doping harus pergi ke luar kota. Oke, saya menunggu momen itu, 24 Juni 2016.
Rasanya bahagia yang tak tergantikan adalah ketika saya dinobatkan sebagai alumni Ilmu Komunikasi FISIP USU, bahkan bahagianya melebihi ketika saya diwisuda (Agustus, 2016). Ya, sangat bahagia sekaligus lega karena akhirnya pundak saya dapat sedikit ringan untuk dibawa. Puluhan teman-teman juga turut hadir untuk mengucapkan selamat sembari memberikan beberapa bingkisan yang saya anggap sebagai hadiah atas kebanggaan mereke terhadap saya, terima kasih teman-temanku.

Oh iya, saya jadi lupa bahwa selain sibuk bekerja dan menuntaskan skripsi saya juga tengah memulai bisnis baru yakni usaha hijab online. Usaha itu saya beri tanggal ulang tahun tepat pada Hari Buruh Nasional, 01 Mei 2016. Alhamdulillah, meski baru beberapa bulan (hingga Desember 2016) saya sudah mendapatkan omset lebih dari lebih dari 10 juta rupiah. Semenjak bekerja, saya memang tak lagi “merengek” untuk meminta uang kepada orang tua di rumah, karena saya akhirnya sadar bahwa mencari uang sangatlah sulit, tapi nggak nolak juga sih kalau ditransfer hagahaga (jangan ditiru). Nah, usaha yang saya geluti sekarang juga merupakan salah satu bentuk usaha saya agar setelah menjadi sarjana saya tak akan meminta uang lagi kepada orang tua.


Sembari menjalankan usaha yang saya namai dengan Zakiyah Berkah, saya juga masih tetap menjadi reporter, saya jadi teringat ucapan dosen saya “menjadi reporter itu haruslah dari panggilan hati, tidak bisa dikerjakan begitu karena harus setulus hati dan berperang melawan godaan.” Saya memang tengah sadar akan itu, dan saya menikmati prosesnya. 

Sembari menunggu momen paling bersejarah di 22 Agustus 2016 yakni wisuda, saya menikmati hari-hari baru saya setelah menjadi seorang sarjana. Pekerjaan dan bisnis tetap saya jalani dengan semaksimal mungkin. Yap, akhirnya hari itu tiba, semalaman menunggu hari penting itu saya justru hanya tidur satu jam karena keasyikan ngobrol sama make up artist yang kebetulan nginap di kosan supaya besoknya gak telat datang. Alhasil waktu di wisudaan saya justru tertidur dengan posisi duduk hahaha, luar biasa kali ya.



Selepas wisuda, saya berniat untuk menyambung studi di salah satu sekolah bisnis di Jakarta, ketika itu persiapan hampir matang, tapi sayang larangan pergi dari Babah membuat saya kecewa dan sedih tak berkesudahan. Tidak tahu alasan pasti atas larangan itu tetapi yang pasti saya tahu bahwa Babah belum bisa jauh dari anaknya yang cantik ini *Eaaak.

Alhasil karena tidak diizinkan merantau, saya memilih untuk liburan ke Ibu kota, untungnya dikasi. Perjalanan itu saya lewati dengan kakak saya, Afni. Banyak hal yang saya pelajari setelah 10 hari di Ibu Kota, mulai dari tutur bahasanya, budaya, lingkungan dan lainnya, dan dari semua itu membuat saya ingin sekali merasakan menjadi anak rantau di kota ini meskipun saya tau itu hanya bisa menjadi angan-angan semata.
Niatnya liburan ke Jakarta tapi malah diajak sepupu ke Bandung

Oh iya, sebelum pergi ke Jakarta, saya telah memutuskan untuk resign dari tempat saya bekerja. Jadi sekarang ceritanya saya itu ya pengangguran gitu hahaha, gapapa pengangguran asal ada aja uang yang masuk ke rekening ahaaaay. Akhirnya saya memilih fokus untuk membangun bisnis Zakiyah Berkah karena rasanya emang nyaman aja gitu ngejalaninya apalagi kalau tiap hari tu banyak yang transfer eaaaak.





Sampailah di penghujung tahun, november 2016 saya mendapat tawaran untuk menjadi enumerator pada sebuah survey kesehatan yang kebetulan surveynya itu dilakukan di daerah asal saya, Asahan. Tanpa berpikir panjang saya langsung ikutan, hitung-hitung sebagai abdi pada daerah sendiri.

Tim Survey Asahan



Tapi sayang sekaligus sedih, kontrak yang harusnya berjalan selama 40 hari tidak bisa saya penuhi dikarenakan baru hari ke 7 saya sudah tumbang. Yap, bukan karena saya ga bisa tapi emang kondisi tubuh yang minta ampun, saya sakit. Kebetulan bulan itu saya ulang tahun, angka kembar tahun ini menjadi ulang tahun menyedihkan selama saya hidup karena di hari yang berbahagia itu saya justru sedih, saya hanya berdoa semoga Tuhan bisa memberikan saya kesehatan secepat mungkin. Saya bersyukur masih diberi sakit, karena itu tanda sayang Allah sama saya, tapi saya juga sedih karena lebih banyak lagi yang sedih melihat kondisi saya ketika itu, terutama keluarga.




Sudah berobat ke banyak dokter, tapi sarannya tetap sama. Karena saya tidak bisa menjalankan saran tersebut akhirnya sama dan umi berniat untuk pergi ke Penang. Alhamdulillah, dokter disana punya saran lain untuk saya dan hasilnya sudah dua bulan ini saya sehat kembali, sebuah keajaiban. Terima kasih ya Allah.



Yap, itulah review cerita saya di 2016. Semoga bisa menjadi manfaat buat teman-teman yang membaca, terima kasih.





Review Cerita 2016

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Selasa, 21 Februari 2017
With 0komentar
Prev
▲Top▲