Blog ini boleh dibaca oleh siapapun, yang besar, kecil, muda sampe yang mbah-mbah. Salam Sahabat: Zakiyah Rizki Sihombing

Post Terbaru

Rasanya Jadi Reporter di Jakarta

| Minggu, 07 Januari 2018
Baca selengkapnya »
Haloooooo semuanyaaaaaaaa...

Ada yang rindu mau baca tulisan aku gaaaaak? Gak ada ya? Yaudah gak apa, aku tetap nulis aja, kali aja walaupun terpaksa kalian-kalian teteup mau baca #inimaksa.

Yeay, kali ini aku mau bagi pengalamanku selama jadi reporter/wartawan/jurnalis di Jekerdah, ibu kota klen ini lah pokoknya. Oh iya lupa, aku belum cerita ya kalau sebelum jadi reporter aku sempat kerja di salah satu bank swasta di Jakarta ini. Tapi tau klen, cuman sanggop tiga bulan aku disana coy. 
Acara Munaslub Golkar, muka lagi super ngantuk gak bisa dikondisikan

Ada beberapa alasan sih kenapa aku akhirnya milih resign dan back to jobless.

1. KENA MARAH EVERYDAY, EVERYTIME, EVERYTHING

Aku lelah setiap hari dimarahin sama nasabah, baru duduk di kursi kerja, udah ada aja nasabah yang ngomel-ngomel enggak jelas, udah awak bantu tetap aja merepet dia. Nah, tiap kali ada nasabah yang marah-marah gini biasanya aku tetap coba khusnudzon, karena dia kan marahnya sama bank-nya bukan samaku, jadi sebisa mungkin aku tanggapin dengan lemah lembut dan senyuman terbaik. Walaupun aslinya, pengen kuterkam aja nasabah itu.

2. ENGGAK BOLEH BAWA HANDPHONE

Jadi, di bank itu posisiku sebagai phone banking officer (PBO), ya semacam melayani nasabah via telepon. Nah, selama kerja kita harus fokus sama telepon dari nasabah, yang kalau telepon dari satu nasabah mati langsung masuk telpon dari nasabah lainnya. Istilahnya gak bisa lah kita berhenti becakap, Cuma bisa menelan ludah aja wkwk. Karena itu setiap PBO dilarang bawa hp ke ruang kerja. Masalahnya bukan apa-apa, aku khawatir aja ada yang urgent nelpon selama aku kerja dan itu enggak bisa kuangkat karena posisinya hp dan barang-barang lain disimpan di loker. 

Sebenarnya aku masih punya alasan lain, tapi itu bukan alasan yang terlalu masalah, kayak misalnya harus makeup, jarak kantor yang terlalu jauh dari tempat tinggal, cerita orang tentang #riba, dan konsekuensi tinggi kalau melakukan sebuah kesalahan.

Udah ya, kok malah cerita kerja di bank pula, back to topic!

Jadi, sebenarnya kalau boleh jujur aku pengen kali kerja di TV. Tapi mungkin rezekinya belum kesana. Dan akhirnya aku milih untuk jadi reporter di media online. Waktu wawancara, CEO perusahaanku nanya tentang topik apa yang paling kusukai dalam liputan, tentu saja aku menjawab tentang generasi millenial, anak muda zaman sekarang atau hal-hal yang berkaitan dengan biografi, profile, kuliner dan semacamnya. Sesuai dengan media online tempatku bekerja sebelumnya yaitu ceritamedan.com. 
Liputan Natalan di Monas

Tapi kenyataannya, redaktur nempatin aku di politik, tepatnya aku diminta untuk nge-pos di kantor DPR. Rasanya kesel, males dan gak semangat buat liputan. Mau gak mau, aku harus mau, ya walaupun di awal cukup berat untuk memulainya.




Nah, di masa-masa awal menjadi reporter politik aku ngerasa kalau aku orang yang paling bego sedunia, banyak enggak taunya, semua semua gak tau, banyak isu yang ketinggalan, sampai aku harus mengejar ketertinggalan isu itu dengan membaca berita setiap saat, setiap waktu.  Aku akhirnya mulai bisa dan terbiasa. Sekarang aku malah jadi kaku kalau diminta untuk nulis feature hahahaha. 
Acara Hari Pahlawan di TMPN Utama Kalibata

Kalau ada yang nanya gimana sih dunia reporter itu sebenarnya, dapat banyak tekanan gak? Waktu kerjanya gimana sih?

Nah, saatnya aku jawab ini, tapi harus digarisbawahi ya, setiap media punya regulasi yang berbeda, sehingga enggak semua reporter punya tekanan yang sama dalam bekerja.

Alhamdulillah nya aku kerja di media start up, jadi sekarang ini belum terasa berat bebannya. Ya tapi tetap aja tekanan tentu tetap ada, kayak misalnya dalam sehari harus ngirim lebih dari lima berita, setiap berita harus disertakan dengan foto, establish, teks, video/podcast. Lumayan ribet sih dibanding media lain, tapi setidaknya enggak harus running news sehingga masih ada waktu buat bernafas, walaupun sekali dua kali haha.

Registrasi Partai untuk Pilkada di KPU
Untuk waktu kerjanya sendiri itu tentu unpredictable, jadi kamu bisa aja liputan dari pagi sampek tengah malah. Tergantung kemana kamu dilemparkan. Kalau aku sih karena ngepos-nya di DPR ya enggak terlalu overtime, setidaknya aku harus udah nyampek DPR di hari Senin-Jumat itu maksimal jam 9 pagi, dan pulang bisa sampek jam 9 malam, tergantung ada enggaknya isu, pimpinan atau acara di DPR.


Sementara hari Sabtu dan Minggu aku teteup kerja ya guys, bukan libur hahaha. Liburnya cuman satu hari, kadang hari Sabtu, kadang hari Minggu, tergantung penugasan dari redaktur. Nah, di dua hari ini aku enggak di DPR karena DPR nya libur, biasanya aku disuruh liputan ke lapangan kayak misalnya liputan Car Free Day, liputan di Monas, atau acara-acara lain lain. Tapi karena ini #tahunpolitik biasanya aku dilempar ke agenda orang partai.

Rapat Paripurna DPR RI
Nulisnya gimana sih, bawa laptop gak setiap hari?

Nah, ini dia yang paling greget, di awal jadi reporter aku selalu bawa laptop sih, karena aku enggak terbiasa nulis berita di handphone. Tapi lama-kelamaan punggungku jadi sakit karena bawa beban terus setiap hari, belum lagi bawa #bebankehidupan. Kadang kalau pas lagi males bawa laptop aku make komputer yang ada di press room DPR, cuman ya kan kadang juga dipake sama reporter lain.

Akhirnya aku mencoba terbiasa menulis di handphone, untungnya kantor memfasilitasi aku sebuah hp yang agak kerenan buat kerja jadi nulisnya makin semangat deh.

Apa pengalaman yang paling berkesan selama jadi reporter?

Tiap hari sih berkesan, karena setiap hari ketemu orang baru, kemampuan nulis juga jadi meningkat meski pun ya enggak bagus-bagus amat. Tapi yang paling berkesan itu adalah waktu aku liputan kebakaran salah satu ruangan di DPR, aku kehirup banyak asap dan akhirnya jatuh, untungnya enggak sampe pingsan tapi jadi batuk-batuk berkepanjangan. Alhamdulillahnya tim medis langsung larikan ke UGD Yankes DPR dan aku langsung dipasangin oksigen, sedihnya waktu susternya nanya, “Mbak namanya siapa? Zakiyah, umurnya? 23, tanggal lahirnya? Hari ini saya ulang tahun,” langsung deh mewek, si susternya juga ikutan sedih dan bilang “sabar ya mbak, ulang tahun kok malah dapat cobaan.”

Cobaan di hari ulang tahun hahaha
Apa yang paling seru?
Ini juga banyak, salah satunya itu waktu di acara-acara besar yang dihadiri sama presiden, panglima TNI atau orang-orang penting lainnya. Jadi pada momen inilah emosi kita dipertaruhkan, karena harus siap himpit-himpitan sama reporter lain, rebutan nanya, rebutan ambil foto dan video. Kalau dalam dunia reporter, ini namanya doorstop. Aku sendiri selama doorstop pernah sampek jongkok, duduk, berdiri, berdiri tapi tunduk-tunduk, pokoknya segala macam gaya biar gimana caranya enggak menghalangi kamera TV media sebelah, tetap bisa ngerecord suara si narsum tanpa menyentuhnya. Belum lagi kalau harus doorstop sambil lari-lari karena narsumnya enggak mau kasi komentar. 

Doorstop Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto
Dari semua pengalaman doorstop, ada sih yang paling sedih, waktu itu mau doorstop-in Jusuf Kalla di acara Munaslub Partai Golkar, nah disitu posisisinya Pak JK semacam enggan gitu kasi komentar, jadi kita harus teriak-teriak “Pak permisi pak, sebentar pak,”. Kita mau maju ngedeketin juga enggak dibolehin sama Paspampresnya, alhasil aku yang berdiri di depan jadi didorong-dorong sama reporter di belakang sampe jatuh, mau mundur juga enggak bisa, aku nyoba mundurin badan dan akhirnya leherku kejepit reporter lain, mau mundur dan maju sama sekali enggak bisa. Alhasil pasrah dan sumpah itu sakit banget, sekitar 4 menitan nahankan posisi kayak gitu rasanya pengen marah tapi enggak tau harus marah ke siapa.

Munaslub Partai Golkar

Temu Selebgram di MPR RI

Upacara Pemakaman Anggota DPD RI AM Fatwa

Demo UMP di Balai Kota

Pak Jokowi di DPR RI

Udah ya, ntar kalau diceritain semua jadi enggak seru. Kalau ada yang pensaran cerita lainnya, boleh komen atau chat personal aja ya guys. 

Intinya jadi reporter itu seru! Pas lah buat klen yang suka tantangan.

Rasanya Jadi Reporter di Jakarta

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Minggu, 07 Januari 2018
With 2komentar

SI KECIL YANG PECICILAN

| Jumat, 27 Oktober 2017
Baca selengkapnya »
Sempat berbulan-bulan menghilang dari dunia blogger, dan hari ini aku kembali. Kembaliku berasalan, hari ini aku kembali datang untuk menuliskan suatu kesan tentang temanku yang berulang tahun hari ini, Amal Hayati.



Aku mengenalnya sejak duduk di Madrasah Aliyah (Sederajat SMA). Kami tidak pernah sekelas, tidak satu organisasi atau pun tidak satu permainan tapi entah mengapa aku lupa alasannya, aku dan dia jadi dekat. Yang kuingat dia adalah sosok periang, banyak bicara, suka tertawa, ramah dan pecicilan, mungkin itulah yang membuatku tak pernah untuk enggan menyapanya barang sekali dua kali.

Tahun terakhirku duduk di Aliyah, kelas kami berdekatan, dia sering bertandang ke kelasku untuk menyapa teman-teman lainnya, maklum dia terlalu ramah orangnya. Tidak banyak komunikasi yang terjadi di antara kami secara langsung, hanya saja kami sering saling melempar komentar di sosial media facebook yang sedang ngetren saat itu. 

Kedekatanku dengannya bermula saat kami sama-sama bekerja di salah satu perusahaan media dan digital di Kota Medan. Aku menjadi reporter dan dia editornya. Aku mau pun dia saat itu masih duduk di semester akhir perguruan tinggi yang kebetulan sama-sama di Medan, namun beda instansi.





Setiap hari kecuali Minggu aku bertemu dengannya, muak. Tapi kalau udah lama gak jumpa jadi rindu, sedikiiiiiiiiit. Kebersamaan itu bertahan sekitar 8 bulan, dia memilih lebih awal untuk resign karena berbagai alasan, dan aku menyusul sebulan kemudian, bisa dibilang dia adalah gerbang untuk mempengaruhi teman-teman lainnya ikutan resign hahahaha.

Kalau ditanya apasih Amal dengan teman-teman yang lain?

Yes, aku akan jawab. Anak ini PECICILAN-nya luar biasa, cakapnya banyak, hidupnya selalu bahagia walau kadang suka nangis di balik layar, anak manja emak bapaknya. Tentang pertemanan, dia loyal, selalu tau apa maunya kita, walau kadang suka ngeselin karena untuk momen-momen penting dia nothing. Kalau kebanyakan teman suka ngomongin kita di belakang, ini anak beda, dia ngatain kita nyata-nyata di depan mata kita, “gendut kali kau zeeeeek, itam kali kau, bandal kali, aku cantik kau jelek,” seperti itu misalnya.

Gak heran, karena kejujurannya itu dia punya banyak teman. Cuman sayang, dia masih jomblo sampe sekarang. Semoga cepat dapat jodoh ya jAMALuddin, orang Sumut, harusnya. Udahlah, malas cakap banyak-banyak. Inti tulisan ini Cuma mau ngucapin selamat buat bertambah tuanya kau aja kok.

Happy birthday AMAL, semoga cepat dapat gelar magisternya, kuliahnya lancar, jangan sering-sering ngeluh. Jadi orang sukses yaaaaaaa pokoknya, jangan lupa kawan kalau udah suskes. SEHAT-SEHAT DAN JAGA DIRI BAIK-BAIK DISANA.



SI KECIL YANG PECICILAN

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Jumat, 27 Oktober 2017
With 1 komentar:

Mengenal Tugas dan Fungsi TNI Bagi Negara

| Selasa, 17 Oktober 2017
Baca selengkapnya »
TNI (Tentara Nasional Indonesia) merupakan sebuah nama bagi angkatan perang negara Indonesia. Terdiri dari tiga angkatan bersenjata yakni TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara yang dipimpin oleh Panglima TNI.


merdeka.com

Melalui perannya, TNI memiliki kewajiban sebagai alat negara di bidang pertahanan menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. Sementara itu di era modern ini, TNI memiliki tugas pokok berupa operasi militer untuk berperang yakni sebagai berikut:

1. Mengatasi gerakan separatis bersenjata;

2. Mengatasi pemberontakan bersenjata;

3. Mengatasi aksi terorisme;

4. Mengamankan wilayah perbatasan;

5. Mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis;

6. Melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri;

7. Mengamankan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya;

8. Memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta;

9. Membantu tugas pemerintahan di daerah;

10. Membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam undang-undang;

11. Membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala negara dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia;

12. Membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan;

13. Membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and rescue); serta

14. Membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan.

Sementara itu, TNI modern ini juga dikenal sebagai alat bagi negara untuk pertahanan negara itu sendiri. Seperti halnya sebagai penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman penggunaan senjata dari luar dan dalam negri yang kerap kali mengancam kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselematan bangsa. Dalam hal ini TNI berfungsi sebagai penindak segala bentuk ancaman serta sebagai pemulih setiap kondisi yang diterima oleh negara yang menimbulkan kekacauan bagi negara itu sendiri.



Mengenal Tugas dan Fungsi TNI Bagi Negara

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Selasa, 17 Oktober 2017
With 0komentar

MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI USU, BANGGAKAN SUMATERA UTARA

| Minggu, 04 Juni 2017
Baca selengkapnya »

Sumatera Utara adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Keberagaman suku, agama dan budaya menjadikan Sumatera Utara sebagai salah satu kota yang patut untuk dibanggakan, mengapa? Karena para pemuda/i nya banyak berperan penting di dalamnya, salah satunya adalah Sylvi Dhea Angesti.

Gadis yang lahir pada 20 Juli 1996 ini sudah memulai awal karirnya saat berada di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Awalnya Dhea hanya sekedar mencoba untuk mengikuti kontes modelling di sekolahnya. Lalu kemudian ia mulai tertarik untuk serius dalam dunia modelling. Ia terus belajar dengan cara otodidak hingga akhirnya ia tidak canggung lagi saat berhadapan dengan orang banyak serta puluhan kamera yang sedang menyorotnya.



Putri pertama dari dua bersaudara ini merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU). Kegemarannya di bidang modeling menghantarkannya dalam mendapatkan gelar Finalis Miss Internet Sumatera Utara 2017, Januari lalu. Tidak hanya itu, ia juga terpilih menjadi Top 15 Miss Internet Indonesia 2017 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di Hotel Inaya Putri, Bali Nusa Dua. 

APJII sendiri memiliki visi dan misi untuk menyampaikan pesan bahwa wanita millenial Indonesia memainkan peranan penting dalam pertumbuhan industri internet di tengah-tengah masyarakat dan budaya Indonesia. Selain berpenampilan menarik, Miss Internet Indonesia haruslah piawai dalam menggunakan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi internet. Maka dari itu, setelah kepulangan Dhea dari ajang tersebut, Ia akan terus mensosialisasikan bagaimana cara menggunakan internet yang baik dan sehat.

Beberapa penghargaan yang pernah di raih oleh Gadis Medan ini antara lain Juara 2 Modelling Ulang Tahun IMSI Fakultas Ilmu Budaya USU 2011, Top 20 Cover Girl Aneka Yess 2012, Medan Fashion Week 2012, Juara Harapan 2 Pemilihan Wajah Eksotika Sari Ayu Martatilaar, Juara 3 Modelling IM3 SUMUT, Juara 2 Modelling Yamaha SUMUT dan Hijab Model Hunt Jawa Timur 2015. Hingga pada akhirnya kemampuan tersebut bisa menghantarkannya mencapai gelar Top 15 Miss Internet Indonesia 2017.

Menjadi salah satu Top 15 Miss Internet Indonesia 2017 merupakan suatu hal yang menambah rekam jejak pencapaiannya di dunia modelling. Sebagai Miss Internet ia dituntut harus cakap dalam berbicara serta pengetahuan yang baik dan kemampuan untuk mensosialisasikan tentang dunia internet kepada seluruh lapisan masyarakat. Karena pada dasarnya, Miss Internet sendiri lebih mengedepankan tentang wawasan para wanita dan pengetahuan yang luas dalam bidang itu sendiri. 

“Dhea bangga menjadi bagian dari Top 15 Miss Internet Indonesia 2017, berharap kedepannya bisa kasi yang terbaik untuk masyarakat atau warga Sumatera Utara. Dengan adanya sosialisasi yang akan dilakukan nanti, Dhea ingin seluruh lapisan masyarakat mau membantu untuk menjadikan Sumatera Utara yang cerdas dalam berinternet” tuturnya. 

Sumatera Utara khususnya Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara patut berbangga karena memiliki salah satu pemuda yang semangat akan perubahan yang lebih baik lagi. Dhea yang memiliki hobi travelling dan membaca ini juga mengatakan bahwa tanpa dukungan orang tua, dia tidak akan bisa mengembangkan bakatnya di dalam dunia modelling. “Ayah dan Mama Dhea selalu mendukung. Mereka bahkan hadir saat lomba diadakan. Mereka menemani Dhea dari dulu hingga sekarang. Tujuan Dhea saat ini ingin membuat mereka bangga dengan cara membantu unttuk memajukan pengetahuan tentang internet sehat di kalangan masyarakat Sumatera Utara” tutupnya.

Text dan foto : Glanz Publisher

MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI USU, BANGGAKAN SUMATERA UTARA

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Minggu, 04 Juni 2017
With 0komentar

KAU YANG DULU BUKANLAH KAU YANG SEKARANG

| Jumat, 17 Maret 2017
Baca selengkapnya »
Halo Risa, perempuan judes yang sejak 8 tahun lalu aku kenal pendiam, imut, pintar, baik hati. Tapi sekarang, jangan ditanya hahaha hilang semua penilaian-penilaian suci itu untukmu, karena Risa yang kukenal sekarang banyak kali perubahannya, mulai dari ujung kaki sampek ujung kepala. Maafkan aku, memang harus jujur kali untuk yang satu ini.

Eh eh tapi tunggu dulu, hari ini aku sengaja mau bahas tentang Risa alias Risa Fitrijayati ST berhubung doi lagi ulang tahun. Iya sih dia pasti pengennya aku bahas yang baik-baik kali ini, tapi jangan harap....akan kubongkar semuanya hahahahaha.

Jadi, Risa ini adalah kawanku waktu dulu SMA, eh enggak..Madrasah Aliyah lah lebih tepatnya. Aku kenal dia udah dari kelas X tapi emang aku gak mau ramah-ramah sama dia karena keliatannya anaknya pintar terlihat dari jerawatnya yang subhanallah waktu itu, menyimbolkan kestresannya belajar belajar dan belajar. Nah, karena dia anak pintar, apalah dayaku yang anak biasa-biasa aja, ya kayak segan gitulah mau nyapa-nyapa. Karena kebetulan waktu itu dia agak dekat sama kawan dekatku, Rahmi namanya, makanya lah kadang-kadang ya agak sok ramah lah aku sama dia.

Nah rupanya entah kekmana ceritanya, pas naik kelas XI aku jadi sekelas sama si Risa ini, disinilah aku tau kekmana dia aslinya. Iya, betul lah memang dia pintar apalagi Fisika, Matematika, Kimia, pokoknya IPA-ers banget lah. Kayaknya sih pintarnya emang turun temurun dari keluarganya hahaha. Walaupun termasuk golongan anak pintar, dia gak mau duduk di depan kayak anak teladan, malah milih duduk paling belakang dan sebangku sama si Widya. Yang paling kuingat asal jam keluar menmaen (istirahat) dia sukak suntuk menyuntuk mukaknya karena kawan sebangkunya nongkrong sama cemewewnya, jadilah si Risa melalang buana samaku dan kawan-kawan lainnya. Mulai dari belik jajan, kombur sampek tasmi’ tasmi’an (anak madrasah pasti paham maksudnya.

Mulai saat itulah kedekatan kami berlangsung, pelan-pelan aku jadi tau selain pintar ternyata dia baik orangnya, sepaket sama hatinya yang mudah tersentuh. Loh, kenapa tersentuh? Ia, ini perihal pe-ra-sa-an si Risa yang mudah kali tersentuh dan akhirnya luluh. Contohnya, “perlu kujelaskan nggak cha? Keknya udah paham lah ya, takutnya kalau kuceritakan nanti kau flashback dan teringat lagi sama doi yang sudah membuatmu patah hati berkeping-keping.”

Ya gitulah pokoknya tentang Risa versi jadulnya. Terus terus gimana sih Risa yang sekarang di zaman modern ini? Em jangan ditanyaaaaak, payah bilanglah wkwkw. Dulu itu dia agak bohayan, pas masuk USU jadi bekurang dagingnya dibante jadi anak Teknik yang kuliahnya tak tanggung stressnya. Dulu, dia anaknya kalem, kebiasaanya kemana-mana pake rok, kalau pun pake celana ya celana bahan, kebayangkan gimana Risa versi jadulnya? Semenjak kuliah, dia udah belajar jadi anak bandal, pake jeans dan tiba-tiba jadi fashionable, tekejot jugak awak nengoknya yekan, ya itulah namanya transformasi *eak.

Bedanya lagi Risa versi jadul sama versi sekarang apa sih? Sekarang hatinya udah ga selembut dulu, dia udah bisa cakap ceplos-ceplos mencurahkan isi hatinya, mungkin biar gak nyimpan beban banyak-banyak di dalam hatinya hahaha. Aku jadi curiga, mungkin karena itu juga lah makanya pipinya sekarang udah kinclong tanpa jerawat.

Dan, yang paling beda dari Risa adalah makeupnya. Bukan lagi....., kalah lah gaya awak sama dia ckck, sekarang yang pandean dia besolek we, semua tentang makeup paham dia. Mungkin karena udah usia pantas mencari jodoh makanya dia berani tampil beda. Salut lah pokoknya sama perubahan Risa dari masa ke masa.

Satu yang ENGGAK BERUBAH dari seorang Risa adalah kesetiaannya. Kalau bahas ini aku mau terharu aja bawaannya, karena apa...karena dia adalah kawan yang peduli menurutku. Aku ingat betul waktu dia bantuin aku buat ikutan tes perguruan tinggi, dari awal sampe akhir, intinya sama-sama berjuang dan emang dia lah yang paling semangat sampek rela pulang perpisahan sekolah lebih awal sementara kami masih heboh foto-foto di sekolah hanya karena pengen nengok pengumuman kelulusan. Atas izin Allah, sesampainya di rumah telpon darinya lah yang buat aku gemetaran, LULUS di USU...begitupun dengan dia. Makasih ya Risa boneng. “Udah ya, cukup paragraf ini aja aku muji-muji kau sa.”

Pas lah tepat aku siap muji-muji kau sa, tiba-tiba masuk BBM-mu kek gini. Apa gak bangke kali kau hahaha.

Intinya, Risa itu kawan, teman, sahabat sehidup mati yang baik hati, yang selalu ada, yang selalu sukak cerita panjang lebar sampek awak gak sempat becakap, yang hobinya peduli, ah banyakah pokoknya. Tetap jadi Risa yang baik yaaaaaaaaaaaaaaaa.

Happy birthday Cha, semoga 23 TAHUN mu selalu berkah kayak Zakiyah Berkah, semoga tahun ini adalah tahun keberuntunganmu baik itu dalam hal jodoh pekerjaan maupun jodoh pernikahan. Segala yang baik buatmu, segala yang gak baik jangan diikuti, segala yang suka dan duka ayok sini dibagi. Aku tunggu di Jakarta, sama-sama ngadu nasib biar kita tahu gimana kejamnya dunia dan gimana indahnya nusantara.


Happy birthday Risanya Zakiyah, salam rindu dari triliun kilometer.

KAU YANG DULU BUKANLAH KAU YANG SEKARANG

Posted by : Zakiyah Rizki Sihombing
Date :Jumat, 17 Maret 2017
With 0komentar
Prev
▲Top▲